Panasnya gurun sudah makin terasa menggigit. Pemandangan pohon di pinggir jalan juga makin jarang saja. Kami sih jangan ditanya. Sudah mulai berhalusinasi melihat tukang jualan es cincau, es kelapa, es podeng. oh.. oh..oh. Mendadak saja merasa bersyukur dilahirkan di Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Nggak kebayang kalau tinggal di tengah tanah gersang ini. Muka memelas kami membuat Abdelillah kasihan. Sopir kami ini memang juara banget. Inisiatif sangat tinggi. Langsung deh dia parkir di supermarket yang jualan es krim dan punya air mineral dingin. Nyessss.. rasanya!!
Dan ngomong-ngomong rasa bersyukur, puncaknya sih pas kita sampai di Ait Benhaddou. Sebuah perkampungan asli suku Berber dengan bangunan berarsitektur khas Maroko Selatan. Sedikit dari tipe bangunan yang mulai langka karena orang Maroko mulai beralih ke bangunan modern. Konstruksinya yang terbuat dari tanah kering dan tanah liat memerlukan perawatan khusus dan mulai rapuh karena terpaan badai atau hujan. Maka dari itu UNESCO mengadopsinya menjadi salah satu World Heritage.
![]() |
| Ksar Ait Benhaddou. Sisa-sisa kejayaan jalur perdagangan Marakesh-Sahara-Timbuktu. |
![]() |
| Semuanya dari tanah liat |




